PDF Print E-mail
SEPATAH KATA
Tokoh Pendidikan Indonesia


ki hajar_dewantoroEs ist keineswegs der Zweck der Erziehung, mehr Studenten,
Techniker  und  Stellungsuchende hervorzubringen, sondern
Manner un Frauen, die einheitlich und  frei von Furcht sind,
denn nur zwischen solchen menschlichen Wesen kann bleibender Friede herrschen.

(J. Krishnamurti, Vertrauen zum Leben. Ein Beitrag zur Erziehung)


                 Kalimat  buah pikiran J. Krishnamurti yang pernah  menggem­parkan  dunia  ini dikutip oleh Ki Soendoro  atas  nama  Keluarga Besar Taman Siswa ketika harus memberi sambutan atas dianugerah­kannya  gelar kehormatan Doctor Honoris Causa dalam  bidang  ilmu kebudayaan  pada Ki Hadjar Dewantara, bapak pendiri Taman  Siswa, oleh Universitas Gadjah Mada pada tanggal 19 Desember 1956 silam. Ki  Hadjar  Dewantara yang diakui  sebagai  perintis  kemerdekaan nasional, perintis pendidikan nasional, dan  sekaligus  perintis kebudayaan  nasional,  ternyata tidak dianugerahi  gelar  doktor kehormatan  dalam bidang politik atau pendidikan,  tetapi  justru dalam bidang  kebudayaan, karena, seperti yang  dinyatakan  oleh Presiden Universitas Gadjah Mada waktu itu, Prof. Dr. M.  Sardji­to,  yang  namanya sekarang diabadikan sebagai nama  rumah  sakit umum  di  Yogyakarta, makna dan ruang lingkup  kebudayaan  sangat luas  meliputi politik dan pendidikan sekaligus, sebuah  kriteria yang memang dimiliki oleh Ki Hadjar Dewantara.

Waktu itu usia Ki Hadjar Dewantara memang sudah tidak  muda lagi,  tetapi jiwa dan semangatnya, jiwa dan semangat yang  terus menerus  diperbaharui serta diabdikan untuk generasi muda  dalam segala  jaman,  tidak diragukan lagi adalah  merupakan  jiwa  dan semangat  pemuda. Berkobar penuh semangat dalam kesederhanaan, sebuah keteladanan yang sangat ingin diwariskan pada para  pemuda Indonesia, yang menurutnya merupakan benteng  penjaga sekaligus pendorong terciptanya kebudayaan nasional yang dicita-citakan.

Para  pemuda (yang sekaligus juga para  pelajar)  hendaknya tidak memasuki pendidikan hanya sekedar  untuk mendapatkan keterampilan ilmu pengetahuan, tetapi harus lebih dari itu. Adalah sama sekali bukan maksud pendidikan  untuk  menghasilkan lebih  banyak sarjana, lebih banyak pemuda ahli  teknik   pencari pangkat  dan  jabatan, tetapi manusia (pemuda  dan  pemudi) yang rukun dan bebas dari ketakutan, sebab hanya antara insan-insan yang demikianlah akan tercipta perdamaian yang abadi.




Pahlawan Pendidikan 



Ki Hajar Dewantara
 

Serba Serbi Pendidikan

Rumah Belajar

Rumah Belajar

   Kementerian...
Lokakarya

Lokakarya

Lokakarya atau...
Beasiswa

Beasiswa

Dalam rangka...
Ikatan Alumni

Ikatan Alumni

Bikin Eks Sekolahnya...
Regulasi

Regulasi

Undang Undang...

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini70
mod_vvisit_counterKemarin120
mod_vvisit_counterMinggu Ini625
mod_vvisit_counterBulan Ini2088
mod_vvisit_counterSemua12168

Visitors Vote

Our Partners

SIAP-ONLINE

Prakiraan Cuaca

We couldn't find weather data of your location at this time!
Find location here